Sense of Urgency
Saat harus kembali melakukan liputan di Jakarta, maka saat itulah saya kembali rajin memantau berbagai radio berita yang semua gelombangnya tersimpan dalam preset di radio handphone saya guna mendapatkan berbagai informasi teraktual di lapangan. Luar biasa memang radio-radio berita itu menempatkan reporter mereka sehingga selalu berhasil mendapatkan informasi terbaru. Tapi sayang, dalam pendapat saya, banyak di antara para reporter radio itu yang belum memiliki sense of urgency saat menyampaikan laporan mereka di udara. Mahluk apakah gerangan sense of urgency itu? Bayangkan seorang reporter memberitakan tentang suasana di Jalan Cendana saat wafatnya Pak Harto. Dengan nada yang datar ia bercerita tentang keramaian yang terjadi, perkembangan peristiwa dari jam ke jam sampai siapa saja tokoh yang datang lengkap dengan warna baju hingga ke nomor plat mobilnya. Secara teknis, ia sudah menyampaikan laporan dan pendengar sudah mendapatkan informasinya. Titik! Tapi tetap s...